Tampilkan postingan dengan label Cerpen Teenlit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Teenlit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Maret 2013

Batang Pohon Ceiba

Aku melangkah penuh kecemasan saat memasuki gerbang tinggi yang membuka bangunan tua yang masih tetap bertahan hingga kini. Tempat itu dibingkai pepohonan ceiba yang tumbuh subur; batangnya besar dengan rata-rata diameter lebih dari satu meter, daunnya rimbun menghijaukan pandangan, dan bunga-bunga putihnya jatuh berguguran mengubani rerumputan. Aku ngeri sekaligus rindu pada pohon yang katanya keramat bagi bangsa maya yang mengatakan kiamat pada tahun 2012 itu. Juga semua kenangan di dalam bangunan tua itu. Tapi aku takut untuk tahu yang sebenarnya. Sangat takut bila akhirnya kecewa.

Begitu banyak kenangan tersimpan rapi di sana: saat-saat pertama aku mengenalnya, saat-saat indah melalui hari bersamanya, juga saat-saat sedih harus kehilangan dirinya. Dia yang pernah kulupakan, kini menguasai hatiku lagi. Aku tak mampu menepis bayangnya walau sedetik pun. Seseorang yang sangat kusayangi dan selamanya akan tetap kusayangi, walaupun pernah tak kuacuhkan.

Aku melanjutkan perjalanan dan mulai menapakkan kakiku pada lantai keramik yang berwarna senada dengan cat bangunan tua itu. Aku tak mau menengok ke belakang. Ada taman pohon ceiba yang akan membuka luka lamaku. Udara sejuk di sini membuatku sesak karena rasa takut yang menyerbu. Aku takut bertemu kenangan masa lalu yang menyakitkan. Kenangan bersamanya yang telah mengecewakanku.

“Ve…, Ve…” tegur seseorang di belakangku terbata. Sepertinya ia sangat mengenalku. Langkah kakinya hampir mendekat. Aku tak mau menengok. Suara itu memanggil-mangilku terus tiada hentinya. Kutulikan pendengaranku dan berlari sekencang mungkin. Hingga aku menubruk punggung seorang pria yang sangat kukenal, “Randu!” kataku spontan. Seorang wanita seolah menepuk bahuku. Aku menoleh. Nisya tersenyum padaku.
***

Sesungguhnya aku tak pernah mau menapakkan kakiku lagi di sekolah ini. Namun Ujian Nasional memaksaku untuk melawan rasa takut. Dan Randu, seseorang yang memaksaku untuk datang ke sini. Membuktikan kebenaran dari janji jari kelingking yang pernah kami ucapkan dulu. Ya, janji yang kami ikrarkan satu minggu sebelum ujian di bawah pohon ceiba. Selama lima hari aku akan bersamanya melewati hari-hari yang penuh teka-teki.

“Randu, kita janji jari kelingking dong. Ujian Nasional nggak usah nyontek, ya. Tolak bocoran! Percaya diri kalau kita pasti bisa. Kita kan udah belajar,” kataku pada Randu saat istirahat.

“Baiklah. Gue mau ukir nama lo dan nama gue di batang pohon ini. Sebagai tanda bahwa masih ada dua siswa yang nggak nyontek sampai ujian selesai.” Jemari Randu mengukir namaku terlebih dahulu. Bel sudah keburu berbunyi saat ia baru mulai mengukir namanya. Kami berlari menuju kelas. Di perjalanan kami terus mengingkrarkan janji, “No bocoran! No nyontek!”.

Setelah hari itu, kami libur selama seminggu. Di hari tenang aku sangat merindukan Randu. Namun apa boleh buat, aku baru bisa menemuinya senin nanti. Sekarang waktunya belajar dan belajar.

Tiba juga senin yang kunantikan. Kulihat wajah Randu amat tegang. Ini ujian hari pertama. Teman-teman yang lain sibuk menunggu bocoran dari ketua kelas. Sudah menjadi rahasia umum bila bocoran dan menyontek adalah hal legal bagi siswa-siswi sekolah menengah. Malahan terkoordinir dengan sangat baik, mulai dari sumber sampai penyebarannya. Hampir 100% siswa-siswi di kelasku menunggu bocoran yang sudah mereka bayar secara patungan. Dan hasilnya bel pun berbunyi. Bocoran terlambat datang di hari pertama.

Semua soal mampu kukerjakan dengan baik. Setengah jam sebelum bel kulirik Randu yang duduk di bangku belakang. Randu terlihat sangat panik. Harapanku ia segera tenang dan yakin bisa mengerjakannya. Namun kegelesahan menyelimuti pikirannya. Randu seperti amnesia dengan semua yang pernah dipelajari.

“Ve, gue nggak bisa ngerjain soal. Kayaknya gue mesti pakek bocoran. Pelajaran kedua bakalan keluar bocorannya lima menit sebelum bel.” Randu memohon aku mengizinkannya. Usai ujian pelajaran pertama, hatiku kacau akibat ucapan Randu barusan. Kutarik tangannya menuju pohon ceiba. Ia menolak.

“Ve, lo sih pinter, tapi gue… Bisa-bisa gue nggak lulus kalau nggak pakek bocoran!” Randu menatap mataku tajam. “Gue sudah bayar buat jaga-jaga,” lanjutnya lagi.

Aku hanya mampu terdiam. Menahan sakit atas ucapan Randu. Ia mengkhianati janji kami. Janji yang kami ikrarkan seminggu yang lalu. Janji yang ia tulis di batang pohon ceiba. Aku berlari meninggalkan Randu yang masih terpaku. Taman pohon ceiba itu obatnya.

Randu…, yang kutahu dari nama itu adalah nama sebuah pohon tinggi besar yang memiliki bunga putih yang bila tertiup angin dengan mudahnya terlepas dari ranting-rantingnya yang elok. Pohon yang sangat indah. Pohon randu yang biasa kusebut pohon ceiba. Aku dan Randu selalu menghabiskan waktu istirahat untuk belajar bersama di bawahnya.

Bel pun berbunyi. Aku kembali ke kelas. Tak mau pedulikan Randu lagi. Kekecewaan padanya sungguh mendalam. Aku telah kehilangan Randuku yang dulu. Setahuku ia memang tidak terlalu pandai, tapi kami sudah belajar mati-matian. Dan aku yakin ia pasti bisa.

Hari kedua dan seterusnya, aku tak pernah merasakan keberadaannya. Hingga ujian hari terakhir aku sangat merindukannya. Kuperhatikan dengan serius setiap jejak pikirannya. Setiap ia membaca soal, menganalisisnya, hingga menentukan pilihan pada satu jawaban yang diniai paling benar. Tangannya membulatkan salah satu huruf dari lima huruf yang tersedia. Hingga waktu berakhir dan ujian dinyatakan selesai, aku tak menemukan Randu yang menggantungkan kelulusannya pada bocoran yang telah ia bayar.

Ya Tuhan, jadi selama ini aku salah? Bermuka masam setiap bertemu dengannya adalah kesalahan besar. Sampai hari kelulusan pun aku cuma bisa diam dan diam. Tanpa menyapa Randu. Apa dia lulus atau dia tidak lulus? Ah, aku baru bisa tahu besok pagi.
***

“Ve…” tegur seseorang di belakangku terbata. Sepertinya ia sangat mengenalku. Langkah kakinya hampir mendekat. Aku tak mau menengok. Suara itu memanggil-mangilku terus tiada hentinya. Kutulikan pendengaranku dan berlari sekencang mungkin. Hingga aku menubruk punggung seorang pria yang sangat kukenal, “Randu!” kataku spontan. Seorang wanita seolah menepuk bahuku. Aku menoleh. Nisya tersenyum padaku.

Bukan… Nisya bukan tersenyum padaku! Ia tersenyum pada Vega yang berjalan di samping Randu. Lalu aku… Randu tak peduli padaku lagi. Mungkin ia telah melupakanku dan tak mengacuhkanku, sebagai balasan karena aku juga tak pernah mengacuhkannya. Aku menyudut, berdiri di sudut dekat pintu tata usaha.
“Ve, mau legalisir ijazah juga nih…” Nisya mengantri di bagian paling belakang.

“Sya, tolong jangan panggil Vega dengan cara seperti itu! Lo cuma akan ngingetin gue sama Venus. Gue lagi berusaha ngelupain dia.”

Astaga, Randu ingin melupakanku. Menghapus semua kenangan indah yang pernah kami lalui bersama. Apa tindakanku saat ujian sudah sangat keterlaluan hingga ia berubah seperti itu? Randu, kumohon jangan lupakan aku. Aku sayang kamu. Randu, maafkan aku…

Kulihat Vega meletakkan telunjuknya ke depan bibir. Ia mencoba menenangkan mereka. Namun Nisya dan Randu terlalu egois mengikuti perasaan masing-masing.

“Selama ini, lo nggak pernah lihat gue. Yang ada di pikiran lo cuma Venus, Venus, dan Venus…” Tangis Nisya pecah, beberapa siswa yang antri di depan mereka memperhatikannya.

“Sya, gue harap lo ngerti perasaan gue. Dan gue harap lo nggak perlu ngejar cinta gue lagi. Hati gue cuma buat Venus.”

“Vega, tolong bantu urusin legalisir ijazah gue, ya!” Vega yang juga sahabat baikku menganggukkan kepala.

Nisya meraih tangan Randu, “Mau kemana?” katanya sambil sesenggukkan.
“Sya, lepasin gue.”

Randu berlari menuju pohon ceiba paling tengah di taman sekolah. Meninggalkan Nisya yang berteriak memanggil namanya dan Vega yang menenangkan Nisya dengan sabar. Dan tentu saja aku mengikutinya dari belakang.

Randu memandangi pohon itu penuh penyesalan. Entahlah, padahal ia tak melakukan kesalahan apapun. Malahan aku bangga padanya. Tapi mengapa ia semenyesal itu? Aku tahu dari matanya yang teduh. Dia kecewa pada dirinya sendiri.

Randu melanjutkan ukiran namanya yang belum sempat diselesaikan. Ya, aku ingat waktu itu bel keburu berbunyi dan baru namaku yang terukir pada batang pohon ceiba.

“Ve, maafin gue selama ini,” lirihnya sambil mengusap-usap ukiran namanya yang telah ia selesaikan.

“Ve, gue sayang sama lo. Setiap gue mau pakek bocoran, gue selalu inget lo dan janji kita di sini. Gue nggak pakek bocoran itu sama sekali. Tolong maafin gue Ve. Jangan marah sama gue,” lanjutnya.

Kudekati dia dan kubisikkan tiga kata, “Aku bangga padamu!” Randu tak merespon. Mungkin suaraku terlalu pelan. Kucoba sekali lagi, “Randu, gue bangga sama lo. Maafkan gue selama ini sudah salah sangka. Gue juga sayang sama lo.” Tetap saja tak ada respon darinya. Aku mulai gelisah. Randu, aku berada di sini, begitu dekat denganmu. Kenapa kamu nggak mendengar suaraku? Kataku dalam hati.

Kucoba menyentuh pundak dan menggenggam tangannya. Ya Tuhan, aku tak merasakannya. Kulitku tak mampu meraba apapun. Kuselidiki setiap bagian tubuhku. Ya Tuhanku…

Pohon ceiba di hadapanku hanya bisa terdiam. Bunga putihnya masih berjatuhan di rerumputan. Batangnya masih berdiri kokoh. Samar kulihat ada ukiran namaku dan namanya di batangnya. Aku tak mampu menahan perih yang mendalam. Ketika kusadari bila aku telah tiada. Hancur bersama lambaian dedaunan hijau dan bunga putih yang berguguran tertiup angin.

“Ve, semoga tenang di alam sana…,” kalimat terakhir yang kudengar darinya ikut terbang terbawa angin.
***

Sabtu, 16 Maret 2013

Cinta Terakhir Keysa


Satu persatu bulir air hujan jatuh membasuh bumi. Semakin lama air itu semakin deras, membuat semua orang berlari untuk berlindung darinya. Namun Nugie tak beranjak dari tempatnya, membiarkan baju hitamnya basah kuyup terkena air hujan. Di depan sebuah pusara air mata Nugie tumpah tak terbendung, seakan tak mau kalah dengan derasnya hujan. Dia tak bisa memaafkan dirinya atas kematian sahabatnya, sahabat yang dicintainya.
***
    “Yupz! sudah diputuskan” kata Keysa dengan tekad bulat dan pancaran mata penuh semangat.
    “Malam ini ‘Keysa Puspitasari’ menyatakan bahwa besok akan menyatakan cinta kepada ‘Nugie Pratama’. Kalau kata Vierra sih aku tak mau menunggu terlalu lama. hehe.. Tapi bagaimana seumpama aku ditolak?” kening Keysa pun berkerut.
    Nugie merupakan teman sekelas Keysa. Dengan perawakan jangkung, putih bersih, cuwek (baca: cool), dan jago basket sudah cukup mampu menarik perhatian para gadis. Keysa sangat bangga dengan dirinya sendiri. Pasalnya dia adalah anak perempuan satu-satunya yang bisa dekat dengan Nugie, sang pangeran berkuda putih di sekolahan. Hal ini tidak lain karena Keysa teman sekelas dan sebangku Nugie. Lama kelamaan hubungan pertemanan itu berubah menjadi persahabatan. Dimana ada Nugie pasti disitu ada Keysa.
    Namun hanya satu yang dibingungkan Keysa tentang Nugie “Kok sejak pertama sahabatan, Nugie belum pernah punya pacar? Atau jangan-jangan dia gay lagi. Idiih.. amit-amit! Jadi ini alasannya kenapa selama ini dia selalu nolak wanita yang nembak dia? Masak iya sih. Gak mungkin,. gak mungkin.” Pikiran Keysa menjadi nglantur setiap kali nama Nugie masuk ke dalam otaknya. Diapun berusaha keras menghilangkan pikiran-pikiran paranoia itu dan menenangkan diri dengan berpikir bahwa mungkin Nugie belum menemukan wanita yang diidamkannya. Sebelum pikiran itu menjadi-jadi, dia segera menutup buku hariannya dan bergegas tidur.
Dengan semangat tinggi Keysa memasuki gerbang sekolah. Tanpa ia sadarai ada sebuah mobil mewah memasuki kawasan sekolah. Mobil itu berhenti dan muncullah sosok yang diidamkan Keysa. Keysa ragu-ragu untuk menyapanya. Nugie yang ia kenal selalu naik sepeda ke sekolah. “Apakah benar itu Nugie?” ia terus bertanya-tanya. Dia belakang Nugie keluarlah seorang wanita cantik dengan kaki jenjang, rambut panjang, pokoknya idaman para laki-laki deh. Keysa bahkan tak yakin pernah menjumpai wanita itu di sekolahnya. Setelah mengantarkan Nugie, wanita itu kembali ke dalam mobil dan segera pergi.
    “Kurasa wanita itu bukan berasal dari sekolah kita”,kata salah seorang wanita di samping Keysa yang juga mengamati wanita yang baru mengantarkan Nugie. “Seragamnya saja berbeda dengan kita”, tambahnya. “Wah.. gak ada kesempatan dong buat aku”, kata temannya dengan mimik muka sedih.
    “Aku juga”, batin Keysa dalam hati.
    Selama perjalanan menuju kelas, Keysa tampak bingung dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tiba-tiba dari belakang ada seorang yang merangkulnya. “Hei cantik?” sapa Doni, “Kenapa wajahmu kusut sekali? memikirkan aku ya? tambahnya cengengesan. Tetapi Keysa tak memberikan respon sedikitpun dan semakin mempercepat langkahnya.
    “Hei, kenapa sih?” kata Doni berusaha mengimbangi langkah kaki Keysa. Mungkin Doni mengetahui siapa wanita itu, dia kan sahabat Nugie sejak kecil. Pasti Nugie sering cerita tentang wanita yang disukainya kepada Doni. Seketika itu Keysa menghentikan langkahnya yang membuat Doni ikut berhenti mendadak.
    Baru Keysa ingin bertanya, namun bel sekolah mendahuluinya. “Enggak jadi, kapan-kapan aja deh aku tanya lagi,” katanya sambil melempar senyum kepada Doni. Senyuman inilah yang membuat Doni menjatuhkan pilihan hatinya kepada Keysa. Namun Keysa seolah tak peduli dengan sikap dan semua perhatian yang dia berikan. Di depan kelas mereka berpisah, Doni berbeda kelas dengan Keysa.

    Keysa masih bisa melihat Doni dan Nugie berhigh five di depan kelas. Melihat wajah Nugie membuat Keysa ingat akan kejadian barusan. Rencana yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari terancam gagal total. Jika benar cewek itu pacar Nugie, berarti sudah tidak ada tempat di hati Nugie untuknya. Hal itu berarti Keysa harus mengubur hidup-hidup perasaan yang selama ini dia pendam. Tapi apakah setelah itu mereka masih bisa berjalan sebagai sahabat seperti semula? Bukankah akan terasa menyakitkan jika terus di dekatnya. Keysa semakin bingung dengan pikiran-pikiran paranoid yang antre di kepalanya.
    “Hai Cicak?” Ledek Nugie, namun Keysa malah melengos pergi.
    Nugie sadar ada yang berubah dengan Keysa. Nugie menebak-nebak apa yang terjadi dengan sahabatnya satu ini hingga membuatnya menjadi aneh. “Apa bau badanku gak enak?” batin Nugie tak yakin. Segera dia menciumi bajunya,“Wangi kok, Trus apa?” Seketika itu raut wajah Nugie cerah. Dia telah mengetahui apa penyebab perubahan sikap Keysa. “ Ini pasti masalah yang sangat penting, sangat sensitif, sangat temperamen, dan bila salah sedikit bawaannya mesti marah-marah, kalau gak gitu jutek. Aku tahu masalah ini, dia pasti lagi jeng..jeng..‘SAKIT GIGI’. Haha..” Nugie cekikikan sendiri dengan pikiran konyolnya. Sementara di sampingnya Keysa hanya duduk diam, menyimpan seribu tanya.
    Nugie yang sedari tadi mengamati Keysa merasakan perubahan yang amat sangat dan justru hal ini sangat mengganggu Nugie. Pasalnya setiap hari mereka bercanda, tertawa bersama, dan saling mengejek satu sama lain. Satu-satunya yang membuat Nugie betah di kelas adalah Keysa. Tetapi hari ini, menolehpun tidak Keysa lakukan. Setiap pertanyaan yang Nugie sampaikan tidak pernah dijawabnya, atau hanya dijawab Keysa dengan singkat.
    “Sekaranglah waktunya,” batin Keysa setelah bel akhir tanda pelajaran telah usai berbunyi. Kali ini Keysa berniat menanyakan semua hal yang mengganjal pikirannya kepada Nugie. Dia menunggu waktu agak lama sampai semua teman sekelasnya meninggalkan kelas. Namun tak disangka Nugie malah memelototinya, dan tak lama setelah itu dia memeberondongi Keysa dengan banyak pertanyaan.
    “Cak lo napa sih? Marah ya sama gue? Kalau lo marah sama gue bilang dong, jangan diam saja. Kalau lo diam, mana gue tahu?” tanya Nugie dengan nada agak jengkel.
    Butuh waktu agak lama bagi Keysa untuk mencerna pertanyaan yang dilontarkan Nugie barusan. “ Kau ingat bagaimana pertama kali kita bertemu?” kata Keysa. ”Kita berada dalam daftar siswa baru yang mendapatkan hukuman. Kau duduk di sebelahku dengan memakai seragam SMP dan topi kantong plastik. Itu merupakan suatu kenangan yang lucu, hingga akhirnya kita menjadi sahabat sampai saat ini,” tambahnya. Sedangkan Nugie berusaha mencerna apa maksud perkataan Keysa barusan.
    “Tapi aku salah, sangat salah. Maafkan aku karena aku tidak bisa menjaga persahabatan ini dengan baik,” lanjut Keysa yang membuat Nugie kebingungan. “Aku memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Aku tahu ini tidak salah, tetapi diriku sendiri tidak bisa menghindarinya. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Keysa kepada Nugie.
    Nugie hanya diam, dia tidak tahu harus memberikan respon apa kepada Keysa. Batinnya tidak percaya apa yang barusan Keysa ucapkan, pernyataan cintakah? Haruskah dia senang karena ternyata Keysa memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun saat ini ada Nadine di sisinya.
    Doni yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Keysa dengan Nugie dari balik pintu menyadari bahwa satu-satunya laki-laki yang ada di hati Keysa adalah Nugie. Seberapa keraspun dia berusaha untuk mendapatkan cinta Keysa, namun semua itu hanya sia-sia. Dia pun beranjak pergi dari tempat itu.
    “Astaga..!” kata Keysa kaget. “Kau berpacaran dengan gadis yang tadi pagi?” tambahnya. “Maksudku.. pin yang ada di tasmu. Apakah itu inisial nama kalian berdua, NN?”
    “Hah?” kata Nugie linglung, berharap Keysa tak pernah menanyakan hal itu. “Oh ini.. Memang benar ini adalah inisial namaku dengan Nadine. Kami jadian kemarin” kata Nugie menunduk, dia terpaksa harus mengatakan ini. Cepat atau lambat Keysa pasti akan mengetahuinya walaupun berusaha dia tutupi.
     “Maaf Sa, bukan maksudku untuk menyakitimu. Tapi memang sebaiknya kita bersahabat saja. Kamu adalah orang yang special bagiku dan aku tak bisa melukai hatimu Sa. Aku tahu jika bersamaku, kau akan banyak terluka” kata Nugie dengan suara yang hampir pecah, suaranya seperti tertahan di kerongkongan.
    Mendengar kenyataan ini membuat Keysa tak kuasa menahan bulir-bulir halus keluar dari matanya. Mungkin dia akan terima jika Nugie menolaknya sebelum dia memiliki Nadine. Tapi penolakan ini seolah cintanya telah direbut oleh gadis lain dan itu amat perih.
    Nugie menoleh kepada Keysa dan kaget melihat Keysa menangis. “Kau tak apa-apa?” tanya Nugie berusaha menghapus air mata di pipi Keysa. Namun Keysa menepisnya dan menghapus air matanya sendiri. “Kau kira aku selemah itu? Aku tak apa-apa” kata Keysa berusaha tegar. Air matanya semakin tak terbendung  walaupun berkali-kali dihapusnya. “Aku…aku tak apa-apa” katanya sembari berlari keluar kelas meninggalkan Nugie.
    Keysa berlari dan terus berlari. Air matanya semakin banyak keluar. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, malu kalau ada murid lain yang melihat dia sedang menangis. Keysa berlari semakin cepat tak memedulikan teriakan Nugie yang memanggilnya. Dia tak sadar bahwa dirinya telah berlari melewati gerbang sekolah. Tanpa dia sadari dari arah kanan ada sebuah metromini yang melaju dengan kencang. Dan akhirnya..
    “Ciiiiiiiit……..Bruk!!!!!”
    Keysa masih bisa melihat Nugie berlari menghampirinya. Dia juga mendengar Nugie memanggil-manggil namanya. Namun sedikit demi sedikit pandangannya buram, dia juga tidak bisa mendengar suara Nugie lagi. Dan semuanya menjadi gelap.
    Di pojok kamar itu ada seorang anak laki-laki yang tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, sesekali dia memukul kepalanya dengan kedua tangannya tanda dia sangat frustasi. Dari matanya terus keluar bulir-bulir air yang semakin lama semakin deras. Sorot matanya terus mengikuti lembar demi lembar buku harian yang ada di genggamannya. Tak lain orang itu adalah Nugie.
    Buku harian itu milik Keysa. Kata demi kata di dalamnya mengisyaratkan betapa besar cintanya kepada Nugie. Dia menuliskan semuanya dari awal, saat mereka pertama kali bertemu, doa-doa Keysa setiap malam yang ditujukan untuk Nugie, dan terakhir yaitu kebulatan tekad Keysa untuk menyatakan perasaannya kepada Nugie.
    Membaca itu semua hati Nugie semakin sakit dan dipenuhi penyesalan. Jika saja dia menuruti kata hatinya dan menerima cinta Keysa, pasti semua ini tak akan terjadi. Dia pikir persahabatannya dengan Doni adalah segalanya. Beberapa minggu yang lalu Doni mengatakan bahwa dirinya menyukai Keysa dan minta tolong Nugie untuk membantunya. Sebagai sahabat dia tidak mungkin menolak permintaan sahabatnya sendiri. Untuk itu dia terpaksa menutup hatinya untuk Keysa dan menerima wanita lain sebagai kekasihnya.
    Kini yang tertinggal hanyalah penyesalan yang sangat dalam di hati Nugie. Seberapa besarpun usaha Nugie untuk tegar, namun kenangan akan Keysa akan terus melekat sampai akhir hayatnya. Dia akan tetap hidup bersama cinta Keysa selamanya walaupun kini Keysa telah tiada.

THE END